Berbagi Pengalaman di Bawah Replika Piala Thomas-Uber


Berbagi Pengalaman di Bawah Replika Piala Thomas-Uber

thomasuberisi

Kudus – Karantina tim bayangan Thomas-Uber tak melulu menggenjot fisik dan teknik. Psikologis juga menjadi menu yang harus dilahap Simon Santoso dkk.

Tak perlu mengulang instruksi dua kali, permintaan Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PP PBSI Rexy Mainaky untuk menghentikan aktivitas berbincang usai makan malam di ruang makan Pabrik Djarum Oasis Rabu (23/3/2014) dipenuhi. Pemain, pelatih dan manajer Thomas Uber pun bergegas menuju Plaza Bulutangkis.

Tak butuh waktu lama, rombongan sampai di area yang diinginkan, di depan replika Piala Thomas dan Piala Uber.

Christian Hadinata, mantan pemain nasional yang didapuk jadi manajer tim Thomas mengendalikan acara. Dia pun berdiri di antara replika piala itu. Kemudian Christian meminta para Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Rexy Mainaky, manajer tim Uber Imelda Wiguna, dan para pelatih untuk menyusul ke posisi dia. Pemain dikumpulkan berseberangan dan menghadap ke pelatih.

“Tim ini sudah semestinya menjadi juara karena didampingi oleh para juara dunia. Semua yang ada di depan ini adalah para juara, pendamping tim ini,” ucap Christian kepada para pemain.

Christian pun berbagi kunci sukses semasa jadi pemain hingga dipercaya memperkuat enam kali tim Thomas dengan empat di antaranya jadi juara.

“Kalah menang jangan mau jadi penyumbang poin kekalahan. Kalau dengan catatan yang kalah itu teman saya. Kalau kita menang 3-2 jangan mau jadi yang dua. Atau kalau kalah 2-3 jangan mau jadi yang tiga. Itu prinsip yang saya pegang setiap kali main pada beregu,” ucap Christian

Berurutan Sarwendah Kusuma Wardhani, Rexy, Herry Iman Pierngadi, Marlev Mainaky, Budi Santoso, Eng Hian mengisahkan pengalaman saat memperkuat timnas pada kejuaraan beregu putra putri itu.

Tak hanya pelatih, pemain juga mendapatkan giliran. Adriyanti Firdasari yang selalu jadi tunggal pertama tim Uber sejak 2004 angkat bicara.

“Meskipun saya belum pernah merebut Piala Uber sejak pertama kali memperkuat timnas, tapi saya selalu merasakan keistimewaan tampil di Piala Uber,” ujar Firda.

“Beda banget dengan saat bermain sendiri (di beregu) ada dukungan dari teman-teman. Regang sudah pasti tapi atmosfernya beda banget karena di lapangan tidak sendiri,” jelas pemain yang tak lagi ada di pelatnas itu.

sumber dari Detik.com
Advertisements

Tontowi/Liliyana Juara Kalahkan Saudara Setanah Air


tontowii

Tontowi/Liliyana Juara Usai Kalahkan Saudara Setanah Air Riky/Richi

 

Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir tampil sebagai juara di nomor ganda campuran Singapura Terbuka Super Series. Di partai final, Tontowi/Liliyana mengatasi perlawanan rekan mereka di pelatnas, Riky Widianto/Richi Dili Puspita.

Dalam pertandingan All Indonesian Final di Singapore Indoor Stadium, Minggu (13/4/2014) siang WIB, Tontowi/Liliyana menang dua gim langsung. Unggulan teratas itu mengalahkan Riky/Richi 21-15, 22-20 dalam waktu 43 menit.

Tontowi/Liliyana lebih banyak memimpin pada gim pertama. Mereka sempat unggul 9-5 dan 11-8. Namun, Riky/Richi mampu mengejar dan bahkan berbalik memimpin 13-12.

Setelahnya, Riky/Richi tertahan di angka 13, sedangkan Tontowi/Liliyana terus mengumpulkan poin demi poin. Tontowi/Liliyana akhirnya menyudahi gim ini dengan kemenangan 21-15.

Jalannya gim kedua mirip dengan gim pertama. Tontowi/Liliyana sempat unggul jauh 18-11, tapi Riky/Richi tak begitu saja menyerah dan bisa menyamakan kedudukan menjadi 20-20. Saat poin-poin kritis ini, Tontowi/Liliyana lebih unggul dan akhirnya menang 22-20 setelah pengembalian Richi menyangkut di net.

Berkat kemenangan ini, Tontowi/Liliyana berhak atas hadiah sebesar US$ 23.700 (sekitar Rp 270 juta), sedangkan Riky/Richi menerima US$ 11.400 (sekitar Rp 130 juta).

Juara di Singapura, Langkah Baru Simon Santoso Lebih Maju


Image

Juara di Singapura, Langkah Baru Simon Santoso Lebih Maju

Simon Santoso melanjutkan performa bagusnya dengan menjuarai Singapura Terbuka Super Series.Ia berharap permainannya bisa terus stabil.

Simon yang memulai turnamen dari babak kualifikasi, membuat kejutan dengan mengalahkan unggulan teratas yang juga pemain nomor satu dunia asal Malaysia, Lee Chong Wei, di final, Minggu (13/4/2014).

Pemain 28 tahun itu bahkan berhasil mengatasi Chong Wei dalam dua set langsung. Setelah unggul 21-15 di set pertama, di set kedua ia menang 21-10.

Ini merupakan turnamen kedua yang dimenangi Simon di tahun ini. Dua pekan lalu ia juga tampil sebagai juara di ajang Malaysia Open Grand Prix Gold.

“Saya sangat senang dan bangga karena sudah lama tidak mengalahkan Chong Wei. Saya berharap prestasi saya lebih stabil di waktu ke depan,” ucap Simon tentang kemenangannya itu.

Ditambahkan pelatihnya, Hendry Saputra, ia meminta Simon bermain aman dan tidak terburu-buru menyerang atau memaksa cepat mendapat poin.

“Tempo permainan juga tidak boleh lambat dan memperbanyak variasi pukulan,” terang Hendry yang menangani Simon sejak ia mengundurkan diri dari pelatnas PBSI di Cipayung

Indonesia Rebut 2 Trofi di Singapore Open


68FDEE35F1B9F5E9619153BA739130_h498_w598_m2 777614969AAB19B9E585F170D8490_h498_w598_m2

Simon Santoso dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir Berjaya di negara tetangga

 

Indonesia meraih dua gelar juara di turnamen Singapore Open Super Series 2014 dari nomor tunggal putra dan ganda campuran.

Pebulutangkis tunggal putra Simon Santoso (foto atas) berhasil meraih juara setelah secara spektakuler menjungkalkan pemain No. 1 dunia dari Malaysia Lee Chong Wei 21-15, 21-10 pada final, Minggu (13/4).

Kemenangan ini merupakan gelar kedua Simon di tahun 2014 setelah dua pekan lalu ia juga menjuarai Malaysia Open Grand Prix Gold.

‘Saya sangat senang dan bangga karena sudah lama tidak mengalahkan Lee Chong Wei. Saya berharap prestasi saya lebih stabil di waktu kedepan,’ tutur Simon, yang didepak dari pelatnas Cipayung karena performanya yang naik-turun itu, seperti dikutip laman resmi PB PBSI.

Ia juga sangat berterima kasih dengan dukungan penonton, pelatih dan sponsor yang telah memberikan dukungan kepadanya.

Sementara sang lawan mengaku cukup kaget dengan permainan yang ditampilkan Simon.

‘Saya cukup kaget dengan kebangkitan Simon. Ia tampil sangat percaya diri,’ jelas Lee Chong Wei.

Sebelumnya, ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir berhasil mempertahankan gelar juara Singapore Open Super Series yang juga mereka raih tahun lalu.

Di babak final mereka mengalahkan rekan senegaranya Riky Widianto/Richi Dili Puspita 21-15, 22-20.

Gelar ini juga merupakan yang kedua tahun ini bagi Tontowi/Liliyana setelah menjuarai All England Super Series Premier 2014 pada bulan Maret lalu.

‘Bersyukur kami bisa juara tetapi setelah ini banyak yang harus diperbaiki terutama sering melakukan kesalahan sendiri saat poin kritis.’ kata Liliyana.

Sedangkan bagi Richi Dili Puspita, keberhasilan masuk final ini menjadi motivasi tersendiri baginya.

‘Ini final pertama kami di level Super Series. Tentunya menjadi motivasi dan batu loncatan bagi kami untuk lebih baik lagi kedepannya. Mengenai pertandingan tadi, kami memang kalah di bola-bola depan. Liliyana sangat bagus bola depannya sehingga menyulitkan kami,’ ungkap Richi.

Sementara itu Tiongkok mendominasi Singapore Open dengan merebut tiga gelar lainnya.

Dalam final sesama pemain Tiongkok, Wang Yihan menundukkan Li Xuerui 21-11, 21-19 untuk merebut gelar tunggal putri.

Di nomor ganda putra, Cai Yun/Lu Kai menang 21-19, 21-14 atas Lee Sheng Mu/Tsai Chia Hsin, sementara ganda putri Tiongkok Bao Yixin dan Tang Jinhua merebut trofi dengan menundukkan ganda Denmark Christinna Pedersen/Kamilla Rytter Juhl 14-21, 21-19, 21-15.